Powel Indikasikan Kenaikan FFR Tetap Bertahap

Namun dia menyebutkan ada tanda-tanda yang menggembirakan bahwa perusahaan-perusahaan akhirnya mulai meningkatkan investasi, mengingat usaha mereka bisa terbantu oleh undang-undang (UU) pengurangan pajak perusahaan yang baru-baru ini diberlakukan. “Meski begitu, pergeseran ke tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi ini dipandang lebih sebagai kemungkinan yang jelas daripada kenyataan yang tak terbantahkan,” kata Quarles. Kendati bank sentral AS memperkirakan kenaikkan acuan tingkat suku bunga atau fed fund rate (FFR) tahun ini terjadi sebanyak tiga kali, namun banyak ekonom yang memperkirakan besar kemungkinan FFR dinaikkan empat kali.
Indonesia Siap Ajukan Gugatan Biodiesel ke WTO
Mengenai FFR, Quarles mengatakan langkah yang tepat dalah tetap menaikkannya secara bertahap. Wakil gubernur bank sentral bidang pengawasan itu mengaku khawatir terhadap gejolak pasar saham global bulan ini, di tengah-tengah ketakutan kenaikan upah akan memicu kenaikan harga-harga dan mendorong The Fed untuk bertindak lebih agresif. Dia berpendapat, ancaman inflasi akan bergantung pada faktor-faktor pendorongnya. “Mungkin masuk akal untuk mengasumsikan bahwa pertumbuhan yang lebih cepat akan menyebabkan inflasi yang lebih kuat. Namun, saya pikir masih banyak yang harus dilihat. Sejauh mana pertumbuhan mendorong inflasi, kemungkinan akan ditentukan oleh faktor-faktor yang mendasarinya, yang mendorong kenaikan pertumbuhan,” jelasnya.
Rupiah Bergejolak Setiap The Fed Naikkan Suku Bunga
Ekspansi yang didorong oleh kenaikan permintaan cenderung memiliki dampak yang lebih besar terhadap harga, daripada meningkatkan potensi pertumbuhan melalui investasi yang mendorong produktivitas. “Pertumbuhan yang dipimpin oleh peningkatan kapasitas produktif ekonomi, baik melalui peningkatan partisipasi angkatan kerja atau pun pertumbuhan produktivitas yang lebih tinggi, cenderung memberikan tekanan lebih rendah terhadap harga,” kata Quarles.
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA
Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell menjelaskan bahwa prospek perekonomian Amerika Serikat (AS) ke depan sangat kuat. Ia juga mengatakan, penaikan suku bunga acuan secara bertahap akan membantu perekonomian untuk tetap berada di jalurnya. Dalam penyampaian perdananya di hadapan Komite Jasa Keuangan Dewan Perwakilan AS, Selasa (272), Powell mengatakan bahwa inflasi tetap rendah karena sejumlah faktor musiman. Tapi, kata dia, inflasi dipastikan naik tahun ini hingga mendekati target 2%. Sebab, kata dia, upah bakal terus naik.
Bank targetkan pendapatan bunga naik
“Prospek perekonomian tetap kuat dan kenaikan federal funds rate secara bertahap lagi akan mendukung dua sasaran kami, yakni penyerapan penuh lapangan kerja dan inflasi yang stabil,” ujar Powell. The Fed menaikkan FFR pada Desember tahun lalu dan mengindikasikan tiga kali kenaikan tahun ini. Tapi, laporan ketenagakerjaan AS pada Januari 2018 sangat kuat sehingga memicu kekhawatiran bahwa FFR bisa dinaikkan lebih dari tiga kali guna meredam kenaikan inflasi.
Wakil Gubernur The Fed Randal Quarles juga menyampaikan optimism terhadap prospek ekonomi AS. Alasannya, kata dia, faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan, termasuk keengganan perusahaan-perusahaan untuk berinvestsi, mulai memudar. Meski demikian, Quarles menganggap masih terlalu dini untuk mengatakan ekonomi negara ini telah berada di titik balik, kendati pun pertumbuhan meningkat. Pernyataannya tersebut menunjukkan bahwa dia tidak terlalu khawatir dengan ancaman inflasi.
“Saya cukup optimis mengenai keadaan ekonomi saat ini. Hal ini sudah berlangsung cukup lama sejak lingkungan ekonomi terlihat menguntungkan seperti sekarang,” ujarnya dalam pidato yang disampaikan kepada para ekonom bisnis, Senin (262) waktu setempat. Terlepas apakah ekonomi Amerika Serika (AS) dapat mempertahankan lajunya lebih cepat akan bergantung pada apakah faktor-faktor yang telah menahan pertumbuhan selama sepuluh tahun terakhir akan berkurang, termasuk faktor investasi dan produktivitas yang lemah.