Bagaimana Prospek IHSG Pekan Ini, Asing Jual Rp1,5 Triliun Pekan Lalu

Berdasarkan analisis Bareksa, secara teknikal, pergerakan IHSG dalam sepekan kemarin cukup positif dimana pola three white soldiers menggambarkan pergerakan kenaikan yang cukup kuat. Garis MA 5 terlihat berbalik bergerak naik dan berpotensi terjadi golden cross dengan MA 20 mengindikasikan sinyal uptrend. Indikator relative strength index (RSI) terlihat mulai bergerak positif menandakan momentum kenaikan yang masih terbuka, terutama untuk menguji resisten di level 6.686.
Pergerakan IHSG untuk pekan ini masih sangat berkorelasi dengan kondisi bursa global terutama AS, disamping pelaku pasar masih menantikan sejumlah emiten yang akan merilis laporan keuangan tahun 2017. Kondisi pasar saham AS yang mulai kondusif dan stabil dapat menjadi sentimen positif bagi pergerakan IHSG pekan ini. Sementara itu beberapa data ekonomi yang akan dirilis pada pekan ini antara lain penjualan mobil Indonesia YoY, kredit Indonesia YoY, penjualan rumah lama AS bulan Januari, serta inventori minyak mentah mingguan AS.
Harga Minyak Sentuh Rekor Tertinggi 2 Pekan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam periode 12 hingga 15 Februari 2018 tercatat menguat 1,3 persen dengan ditutup di level 6.591,58. Volume perdagangan dalam sepekan kemarin mencapai 52,44 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp31,69 triliun. Meski begitu, investor asing tampaknya masih berhati-hati menempatkan dananya di pasar saham Indonesia. Sebab investor asing kembali mencatatkan penjualan bersih (net sell) pada pekan lalu senilai Rp1,58 triliun. Secara year to date hingga pekan ketiga Februari 2018, investor asing telah keluar dari pasar saham Indonesia senilai Rp6,89 triliun.
Harga Minyak Mentah Dunia Capai Posisi Terbaik Dua Pekan
Pergerakan positif IHSG pada pekan lalu tak lepas dari sentimen yang berasal dari Amerika Serikat (AS), di mana kondisi bursa saham Negeri Abang Sam pekan lalu berhasil mencatatkan rebound setelah terkoreksi cukup dalam.
Rally bursa AS pada sepekan lalu, di antaranya tercatat Indeks Dow Jones naik 4,25 persen, S&P 500 (4,30 persen), dan Nasdaq (5,58 persen). Kondisi itu turut memberikan sentimen positif bagi pergerakan bursa saham domestik.
IHSG Dibuka Menguat 0,51 Persen, Usai Imlek
Kenaikan bursa saham AS tersebut merespons data Indeks Harga Konsumen (IHK) AS pada Januari 2018 yang tercatat 2,1 persen YoY, melampaui ekspektasi pasar 1,9 persen. Data itu membuat pelaku pasar saham di AS semakin yakin akan adanya penyesuaian tingkat suku bunga pada pertemuan The Fed bulan depan.
Namun di sisi lain, data penjualan ritel AS justru menunjukkan hal sebaliknya di mana pada Januari 2018 angkanya turun 0,3 persen, yang merupakan penurunan terbesar dalam satu tahun terakhir. Angka tersebut melenceng sangat jauh dari ekspektasi kenaikan 0,2 persen. Rilis kedua data tersebut sedikit mulai menenangkan kepanikan pasar setelah sebelumnya pasar saham AS mengalami volatilitas yang cukup tinggi. Kini banyak pelaku pasar AS mulai berpandangan bahwa kondisi itu menandakan ekonomi AS berada dalam posisi kuat dan solid yang didukung oleh kebijakan pemangkasan pajak yang berpotensi memacu pendapatan perusahaan serta mendorong masyarakat untuk membelanjakan uangnya lebih banyak.
PT RIFAN FINANCINDO BERJANGKA - Kenapa Investasi Bodong Menjamur dan Makan Banyak Korban?
Sementara dari dalam negeri, data neraca perdagangan Indonesia bulan Januari 2018 menunjukkan hasil yang kurang memuaskan di mana terjadi defisit US$676,9 juta, atau yang merupakan defisit terbesar sejak bulan April 2014. Angka tersebut meleset sangat jauh dari ekspektasi surplus US$ 280 juta. Defisit besar yang terjadi pada awal tahun ini disebabkan oleh melonjaknya nilai impor 26,44 persen secara YoY, sedangkan di sisi lain nilai ekspor tercatat hanya tumbuh 7,86 persen YoY. Selain itu, pada kamis kemarin Bank Indonesia juga kembali menahan suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate di level 4,25 persen guna mengantisipasi berbagai risiko global, termasuk kenaikan suku bunga The Fed.