Apa dampak penghentian layanan publik AS pada perekonomian Indonesia

Sementara itu pengamat perekonomian dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal, menilai penghentian fasilitas publik yang berlarut-larut di AS dapat melemahkan daya beli masyarakat negeri Paman Sam.
Konsekuensinya, permintaan barang oleh AS ke Indonesia berpotensi menurun. Namun Fithra berpendapat nilai ekspor terhadap AS yang turun tidak akan mengguncang perekonomian Indonesia, yang disebutnya memiliki banyak mitra dagang baru.
“Pemerintah Nusantara saat ini terus mencari partner dagang non-tradisional, ” tuturnya melalui sambungan telepon. Di sisi lain, kata Fithra, shutdown membuat investor berpikir ulang untuk menanamkan modal di AS & memungkinkan pengalihan modal (capitol outflow) dari AS ke negara lain. “Jika itu terjadi, dolar AS akan melemah dan seharusnya rupiah menguat. Tapi ada faktor lain di luar persoalan AS yang turut mempengaruhi naik-turunnya rupiah, ” ujarnya.
Prediksi serupa juga disampaikan Peneliti Institute for Development of Economics & Finance, Bhima Yudhistira, yang menyebut shutdown AS pada tahun 1995 dan 2013 tidak mendongkrak nilai rupiah.
“Saat itu kurs rupiah hampir tidak terpengaruh oleh shutdown di AS karena sifatnya temporer atau jangka pendek, kira-kira berlangsung dua ahad, ” kata Bhima.
Fithra Faisal menilai pengaruh penutupan layanan publik di AMERIKA SERIKAT tak akan sebesar krisis perekonomian global pada 2008, yang disusul memburuknya perekonomian Eropa.
Kemenhub Bidik 116 Juta Orang-orang Naik Pesawat di 2018
Kala itu, kata Fithra, krisis perekonomian yang dialami negara Barat mendorong investor melarikan modal mereka di negara berkembang, termasuk Nusantara.
Jokowi Yakin Program Padat Karya Angkat Daya Beli Warga
“Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat itu menjadi cukup baik, sekitar 6%, ” ujarnya. Bagimanapun, kata Shinta Widjaja yang juga berstatus CEO Grup Sintesa, pelaku usaha hanya akan terdampak peristiwa global yang berlangsung dalam jangka waktu panjang atau permanen.
RIFANFINANCINDO BERJANGKA
Shinta menyebut keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa pada 2015, yang dikenal dengan istilah Brexit, serupa salah satu contoh. “Brexit dampaknya signifikan karena jangka panjang. Kebijakan AS sekarang yang lebih proteksionis juga berdampak bagi kami. Kebijakan global yang berjangka jenjang pasti akan berdampak. “
Salah satunya adalah berdampak buruk pada ekspor jika pemberhentian layanan publik AMERIKA SERIKAT itu berlangsung selama lebih dari dua pekan. Amerika Serikat memang merupakan salah satu pasar utama ekspor Nusantara dengan nilai ekspor nonmigas ke negara itu mencapai US$16, 2 miliar atau Rp216 triliun pada tahun 2017, berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan. Angka itu meningkat Rp19 triliun dibandingkan 2016.
“AS adalah salah satu mitra dagang terbesar Nusantara. Kalau shutdown berlarut-larut, tentu akan berpengaruh ke penuh negara, ” kata Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia, Shinta Widjaja Kamdani, Minggu (2101). Shinta menyebut penutupan badan pengurusan izin berpotensi menghambat proses masuknya barang dari Indonesia ke AS. Meski demikian, ia memprediksi shutdown tidak akan berjalan lebih lama dari penghentian layanan publik yang terjadi pada 2013 di era pemerintahan Barack Obama, yaitu 16 hari.
“Shutdown 2 pekan masih bisa ditanggulangi. Kalau lebih lama, Indonesia mesti bersiap-siap, ” ujarnya. Merujuk data Badan Pusat Statistik, selama empat tahun sejak 2013 tercatat peningkatan volume impor Indonesia di AS, baik migas serta nonmigas. Tahun 2016, volume ekspor ke AS mencapai 7, 3 juta ton atau berada di peringkat ke-10 dalam negara tujuan ekspor Indonesia, di bawah Cina, Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara Asia Tenggara.